09 Desember 2008

Berhentilah Menjadi Gelas


Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika belakangan ini wajah sang murid selalu tampak murung. "Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.

"Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin."Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru."Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?""Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya."Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?""Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.
"Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."

Ibu Adalah Seorang Ibu

Ibu adalah seorang ibu, seorang yang harus dihormati, dimuliakan. Bukankah itu haknya...???? diperlakukan dengan lemah lembut saat masa tuanya.

Ibu, dengan segala kekurangannya...tapi mereka adalah ibu-ibu kita...kenapa kita kadang mengeluhkannya??? toh ibu kita bukan seorang penjahat, bukan pemurtad, tidak melakukan kesyirikan...Ibu kita itu seorang muslimah, rajin ibadah lagi... Bukankah itu kenikmatan yang tak terhingga saat semua anggota keluarga kita dalam naungan islam?

Seandainya pun ada kekurangan, namanya juga manusia, kitapun sebagai anak banyak sekali kekurangannya. Bagaimana kalau beliau tidak mau dinasehati? toh ia bukan sedang melakukan kejahatan, paling hanya kesalahan ringan.

Mungkin banyak hal-hal kecil yang mengesalkan tapi mungkin kita bisa membantunya dengan doa agar ibu berubah. Bukankah kita sewaktu kecilpun banyak mengesalkan dirinya??? lagipula walaupun ia melakukan hal yang buruk, kita harus menasehatinya dengan lembut tanpa harus melukai hatinya.


" Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Nabi Saw menjawab, “ibumu…ibumu…ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.” (Mutafaq’alaih).

Tangisku Di Acara Anas


Disela acara Anas kemarin, menjelang makan siang, aku sempatkan diri untuk kumpul dan berbincang** dengan Ananda, ternyata antara anak yang satu dengan yang lain belumlah saling mengenal, Untuk itu, aku minta satu persatu untuk saling memperkenalkan diri….satu persatu anak-anak memperkenalkan dirinya dengan riang gembira……tibalah saatnya giliran Hendrik.

Dengan suara keras Hendrik memperkenalkan dirinya kepada teman-teman yang lain.
“ Nama saya Hendrik, ibu saya bekerja sebagai tukang ojek, seketika suasana menjadi hening… ….Ibuku menarik ojek dari pagi sampai malam, suara Hendrik mulai terdengar parau menahan haru….kadang ibu harus mengantar penumpang dari Cileduk sampai ke Depok, untuk meringankan beban ibu, saya mencari uang saku sendiri dengan menjual kantong kresek di pasar……”

seketika dadaku sesak menahan keharuan mendengar cerita anak ini…..luar biasa….anak ini bisa menyikapi persoalan kehidupannya menjadi sesuatu yang indah….anak ini bisa menyikapi setiap masalah yang hadir pada dirinya setiap hari sebagai hiburan yang senantiasa mendewasakan dirinya…..

Itulah sebabnya bagi orang yang kuat, masalah hidup adalah hiburan yang menyenangkan, bagai nyanyian jiwa dipagi hari menyambut datangnya sinar mentari.

Sama seperti hal nya ibu Hendrik yang mengasuh kedua anaknya, sekalipun berat tetap saja sang ibu mengangap masalah hidupnya bukanlah beban hidupnya melainkan hiburan bagi dirinya. Karena peran ibu dilakukan dengan CINTA & KASIH SAYANG pada sang buah hati.

Berat masalah kita berarti semakin indah hidup kita…

Allah berfirman :

" Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. " (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 155)

04 Desember 2008

Soul

Jiwa adalah harta yang tiada ternilai mahalnya. Kesucian jiwa menyebabkan kejernihan diri, lahir dan batin. Itulah kekayaan sejati.

Hidup kita adalah pertempuran dan perjuangan belaka. Orang yang takut menghadapi kehidupan dan tidak berani menggosok dan mensucikan bathinnya, tidak akan kenal arti lezat.

Belum ada kekayaan yang dicapai oleh seseorang yang tidak menempuh kesulitan. Seorang pahlawan, mencapai titel pahlawan itu dengan darah dan pedang, begitu jg alim ulama dan lainnya,kelihatannya mereka duduk disinggasana kemuliaan dgn senangnya, pdahal mereka mencapai itu dengan susah payah. Demikianlah mencapai kemuliaan bathin.

Mencari bahagia bukanlah dari luar diri, tetapi dari dalam. Kebahagiaan yang datang dari luar kerapkali hampa, palsu.

Kesenangan terletak diantara dua kesusahan, dan kesusahan terletak diantara dua kesenangan atau dalam senang itu telah tersimpan kesusahan, dan dalam kesusahan telah ada unsur kesenangan.

Disinilah nyata arti sebenarnya pada kekayaan dan kemiskinan. Orang yang paling kaya adalah yang paling sedikit keperluaannya, dan orang yang paling miskin adalah yang paling banyak keperluannya

Airmataku Mengalir

Kemarin pagi, sekitar jam 06.30, HPku berdering.....tumben...gak biasanya ada yang menelpon pagi-pagi seperti ini ujar suamiku....jangan-jangan kabar penting bun....bergegas ku ambil HPku...."Assalamualaikum sapa ku....lalu terdengar di ujung sana suara yang bergetar .....Mbakk....bolehkah aku bersadakoh untuk ibunya Jaka....???? aku berharap dengan sadakoh ini, ibuku bisa sembuh dari sakitnya...., tolong ya mbak...tolong di sampaikan..."

Hatiku pun ikut bergetar mendengar penuturan dari si penelpon, aku tak kuasa menahan laju airmata.....terbayang sudah wajah bahagia Jaka dan ibunya mendengar berita bahagia ini.....Sungguh Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ditengah kegalauan hati seorang ibu karena ketidak berdayaannya menolong sang buat hati yang menderita sakit, Allah mengirimkan bantuannya melalui tangan manusia mulia ini.....

Entah hadiah apa yang sedang di persiapkan SANG KEKASIH untuk kekasihnya ini ......

Allah berfirman :

" Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya " yaitu walaupun manusia tidak mengetahui bahwa kalian telah bersedekah, akan tetapi Allah mengetahuinya maka jangan cemas, niscaya Allah akan membalas apa yang telah kalian sedekahkan "

(Surat Ali Imran, ayat 92)